“Berharap memang
gratis dan mudah
Kau bisa menghambur hamburkan harapan dikepalamu
Tapi butuh
keberanian untuk merealisasikannya
Karena kau
tak ingin melihat isi kepalamu meledak
Dengan semua
harapan yang berserakan, kan?”
Untukmu, gadis yang aku lihat
saat hari raya kedua umat muslim. Aku akan sedikit bercerita tentangmu kali
ini. Aku memang tak sepemberani itu untuk langsung berkenalan denganmu, mungkin
pengecut adalah sandingan yang tepat untukku saat itu, hanya berani melihatmu
dari kejauhan dan sekedar bertanya sedikit tentangmu kepada temanku. Kau lewat
didepanku bersama teman temanmu, entah apa sebenarnya yang terjadi? .
Aneh rasanya seorang “aku” yang
gak pernah percaya pada pandangan
pertama seperti cerita cerita dalam serial FTV di media mainstream, tiba tiba tertarik dengan sosok “kamu” yang bahkan aku
gatau siapa kamu, aku buta apapun tentang mu saat itu, benar benar buta. Entah
kenapa dengan logika berfikirku saat itu, tertarik untuk membangun chemistry dengan seseorang yang aku
benar benar tidak mengenalnya. Tapi setelah sosokmu belok dipersimpangan jalan,
imajinasiku tentang bersamamu ikut hilang, aku kembali berbincang dengan teman
temaku saat itu.
Ya, mungkin aku tidak percaya
diri seperti kebanyakan laki laki, jangankan berfikir untuk berkenalan,
terbesit untuk sekedar bertemu denganmu lagi pun aku tak berani, rasanya tak
mungkin, bahkan mustahil untukku. Tapi entah apa yang membawaku saat itu hingga
sampai kembali dipertemukan olehmu, dihari sebelum ulang tahunmu, entah aku
lupa tanggal berapa? bulan agustus saat itu. Aku kebetulan bertemu dengan teman
kecilku dulu yang kebetulan mengenalmu saat ini. Awalnya hanya perbincangan
mengenang masa masa kecil dulu, saling tanya kabar, mengenang masa lalu, dan
basa basi lainnya. Kau didalam dan aku diluar, saat itu lawan bicaraku memang
teman kecilku, tapi mataku tertuju padamu, objek yang saat itu membuatku berfikir
bahwa apakah kita bisa kenal lebih dekat, atau lebih jauh dari itu, apakah aku
bisa menjadi orang yang tepat untukmu bercerita tentang beratnya harimu, dan
juga beberapa apakah apakah lainnya yang memenuhi kepalaku.
Byurrrr, teman temanmu menyirammu, salah satu cara perayaan disini
dengan mengerjai yang berulang tahun. Macam macam, ada yang sekedar disiram air
biasa, ada juga yang sampai disirami dengan bermacam macam barang seperti
telur, terigu, bahkan air kotor. Entah siapa yang memulai kebiasaan ini tapi
bagiku ini tidak membuat kesan yang bagus untuk siapapun.
Mari kembali untuk mengagumimu,
saat kamu dan beberapa temanmu saling siram, aku mengambil posisi menjauh dari
keramaian teman temanmu, memilih duduk dan melewati keasikan itu, yak tepatnya
melihat senyum dan bahagia dari wajahmu. Ketika semuanya usai, seperti manusia
manusia pada umumnya, menyimpan momen dalam sebuah memori kepala saja rasanya
tak cukup, perlu adanya pengabadian momen atau sesi foto foto layaknya remaja
kekinian. Aku menawarkan diri untuk menjadi tukang fotomu bersama teman temanmu
malam itu, sejujurnya aku ingin ikut berfoto, berdua, mendampingimu. Tapi khayalan
Cuma khayalan, dimatamu aku hanyalah orang baru saat itu.
Selesai lah malam itu yang
ditutup dengan ucapan selamat tinggal yang belum terucapkan. Ragamu memang
sudah pulang, tapi bayangmu terlanjur tak mau pulang dan menjajah isi kepalaku.
Ah sepertinya aku hanya kagum dengan matamu. Atau lebih tepatnya “all about
you”. Sialnya aku pulang membawa bayangan, bukan nomor telponmu waktu itu. Semoga
ada malam malam selanjutnya, bukan kan berharap masih gratis, jadi tak apa
rasanya jika aku hambur hamburkan semua harapanku untukmu.