Senin, 31 Januari 2022

Menguati Januari

 

Bagaimana?

Masih tetap dengan harapan baru yang kau ucapkan dimalam itu?

Masih teguhkan idealis idealis yang tak dibarengi realistis?

Atau masih dengan angan angan yang tak kunjung menuju kemenangan?

Tak apa, tenang saja, dan santai saja

Ini perkara diri sendiri,

Bukan ajang lomba lari

Melihat mereka sudah berada digaris finish

Bukan sebuah alasan untuk berhenti dan membiarkan tangis

Apapun itu, cinta ataupun cita cita

Semua sama saja karena tujuannya adalah mencapai rasa bahagia

Ambil langkah yang kau inginkan

Tetapi jangan lupa dengan resiko yang perlu diperhitungkan

Kita sama sama belum mengerti apa tujuan dari semua ini

Masa depan atau bahagia? Atau keduanya

Sepertinya kita terlalu terburu buru “sok” berjuang

Padahal hidup, bahagia, dan masa depan belum bisa kita definisikan

Tulis ulang lagi apa yang kau cari

Setidaknya agar jelas semua yang dijalani

Sebab bagaimana ingin mencapai tuju

Jika kita tak tau kemana kaki ini harus menuju

Santai saja ini baru akhir Januari

Bukan akhir dari setiap inti.

Jumat, 07 Januari 2022

Ssshhhhhh!

Berharap memang gratis dan mudah

 Kau bisa menghambur hamburkan harapan dikepalamu

Tapi butuh keberanian untuk merealisasikannya

Karena kau tak ingin melihat isi kepalamu meledak

Dengan semua harapan yang berserakan, kan?”

Untukmu, gadis yang aku lihat saat hari raya kedua umat muslim. Aku akan sedikit bercerita tentangmu kali ini. Aku memang tak sepemberani itu untuk langsung berkenalan denganmu, mungkin pengecut adalah sandingan yang tepat untukku saat itu, hanya berani melihatmu dari kejauhan dan sekedar bertanya sedikit tentangmu kepada temanku. Kau lewat didepanku bersama teman temanmu, entah apa sebenarnya yang terjadi? .

Aneh rasanya seorang “aku” yang gak pernah percaya pada pandangan pertama seperti cerita cerita dalam serial FTV di media mainstream, tiba tiba tertarik dengan sosok “kamu” yang bahkan aku gatau siapa kamu, aku buta apapun tentang mu saat itu, benar benar buta. Entah kenapa dengan logika berfikirku saat itu, tertarik untuk membangun chemistry dengan seseorang yang aku benar benar tidak mengenalnya. Tapi setelah sosokmu belok dipersimpangan jalan, imajinasiku tentang bersamamu ikut hilang, aku kembali berbincang dengan teman temaku saat itu.

Ya, mungkin aku tidak percaya diri seperti kebanyakan laki laki, jangankan berfikir untuk berkenalan, terbesit untuk sekedar bertemu denganmu lagi pun aku tak berani, rasanya tak mungkin, bahkan mustahil untukku. Tapi entah apa yang membawaku saat itu hingga sampai kembali dipertemukan olehmu, dihari sebelum ulang tahunmu, entah aku lupa tanggal berapa? bulan agustus saat itu. Aku kebetulan bertemu dengan teman kecilku dulu yang kebetulan mengenalmu saat ini. Awalnya hanya perbincangan mengenang masa masa kecil dulu, saling tanya kabar, mengenang masa lalu, dan basa basi lainnya. Kau didalam dan aku diluar, saat itu lawan bicaraku memang teman kecilku, tapi mataku tertuju padamu, objek yang saat itu membuatku berfikir bahwa apakah kita bisa kenal lebih dekat, atau lebih jauh dari itu, apakah aku bisa menjadi orang yang tepat untukmu bercerita tentang beratnya harimu, dan juga beberapa apakah apakah lainnya yang memenuhi kepalaku.

Byurrrr, teman temanmu menyirammu, salah satu cara perayaan disini dengan mengerjai yang berulang tahun. Macam macam, ada yang sekedar disiram air biasa, ada juga yang sampai disirami dengan bermacam macam barang seperti telur, terigu, bahkan air kotor. Entah siapa yang memulai kebiasaan ini tapi bagiku ini tidak membuat kesan yang bagus untuk siapapun.

Mari kembali untuk mengagumimu, saat kamu dan beberapa temanmu saling siram, aku mengambil posisi menjauh dari keramaian teman temanmu, memilih duduk dan melewati keasikan itu, yak tepatnya melihat senyum dan bahagia dari wajahmu. Ketika semuanya usai, seperti manusia manusia pada umumnya, menyimpan momen dalam sebuah memori kepala saja rasanya tak cukup, perlu adanya pengabadian momen atau sesi foto foto layaknya remaja kekinian. Aku menawarkan diri untuk menjadi tukang fotomu bersama teman temanmu malam itu, sejujurnya aku ingin ikut berfoto, berdua, mendampingimu. Tapi khayalan Cuma khayalan, dimatamu aku hanyalah orang baru saat itu.

Selesai lah malam itu yang ditutup dengan ucapan selamat tinggal yang belum terucapkan. Ragamu memang sudah pulang, tapi bayangmu terlanjur tak mau pulang dan menjajah isi kepalaku. Ah sepertinya aku hanya kagum dengan matamu. Atau lebih tepatnya “all about you”. Sialnya aku pulang membawa bayangan, bukan nomor telponmu waktu itu. Semoga ada malam malam selanjutnya, bukan kan berharap masih gratis, jadi tak apa rasanya jika aku hambur hamburkan semua harapanku untukmu.