Tampilkan postingan dengan label asal cerita biasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asal cerita biasa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Januari 2022

Ssshhhhhh!

Berharap memang gratis dan mudah

 Kau bisa menghambur hamburkan harapan dikepalamu

Tapi butuh keberanian untuk merealisasikannya

Karena kau tak ingin melihat isi kepalamu meledak

Dengan semua harapan yang berserakan, kan?”

Untukmu, gadis yang aku lihat saat hari raya kedua umat muslim. Aku akan sedikit bercerita tentangmu kali ini. Aku memang tak sepemberani itu untuk langsung berkenalan denganmu, mungkin pengecut adalah sandingan yang tepat untukku saat itu, hanya berani melihatmu dari kejauhan dan sekedar bertanya sedikit tentangmu kepada temanku. Kau lewat didepanku bersama teman temanmu, entah apa sebenarnya yang terjadi? .

Aneh rasanya seorang “aku” yang gak pernah percaya pada pandangan pertama seperti cerita cerita dalam serial FTV di media mainstream, tiba tiba tertarik dengan sosok “kamu” yang bahkan aku gatau siapa kamu, aku buta apapun tentang mu saat itu, benar benar buta. Entah kenapa dengan logika berfikirku saat itu, tertarik untuk membangun chemistry dengan seseorang yang aku benar benar tidak mengenalnya. Tapi setelah sosokmu belok dipersimpangan jalan, imajinasiku tentang bersamamu ikut hilang, aku kembali berbincang dengan teman temaku saat itu.

Ya, mungkin aku tidak percaya diri seperti kebanyakan laki laki, jangankan berfikir untuk berkenalan, terbesit untuk sekedar bertemu denganmu lagi pun aku tak berani, rasanya tak mungkin, bahkan mustahil untukku. Tapi entah apa yang membawaku saat itu hingga sampai kembali dipertemukan olehmu, dihari sebelum ulang tahunmu, entah aku lupa tanggal berapa? bulan agustus saat itu. Aku kebetulan bertemu dengan teman kecilku dulu yang kebetulan mengenalmu saat ini. Awalnya hanya perbincangan mengenang masa masa kecil dulu, saling tanya kabar, mengenang masa lalu, dan basa basi lainnya. Kau didalam dan aku diluar, saat itu lawan bicaraku memang teman kecilku, tapi mataku tertuju padamu, objek yang saat itu membuatku berfikir bahwa apakah kita bisa kenal lebih dekat, atau lebih jauh dari itu, apakah aku bisa menjadi orang yang tepat untukmu bercerita tentang beratnya harimu, dan juga beberapa apakah apakah lainnya yang memenuhi kepalaku.

Byurrrr, teman temanmu menyirammu, salah satu cara perayaan disini dengan mengerjai yang berulang tahun. Macam macam, ada yang sekedar disiram air biasa, ada juga yang sampai disirami dengan bermacam macam barang seperti telur, terigu, bahkan air kotor. Entah siapa yang memulai kebiasaan ini tapi bagiku ini tidak membuat kesan yang bagus untuk siapapun.

Mari kembali untuk mengagumimu, saat kamu dan beberapa temanmu saling siram, aku mengambil posisi menjauh dari keramaian teman temanmu, memilih duduk dan melewati keasikan itu, yak tepatnya melihat senyum dan bahagia dari wajahmu. Ketika semuanya usai, seperti manusia manusia pada umumnya, menyimpan momen dalam sebuah memori kepala saja rasanya tak cukup, perlu adanya pengabadian momen atau sesi foto foto layaknya remaja kekinian. Aku menawarkan diri untuk menjadi tukang fotomu bersama teman temanmu malam itu, sejujurnya aku ingin ikut berfoto, berdua, mendampingimu. Tapi khayalan Cuma khayalan, dimatamu aku hanyalah orang baru saat itu.

Selesai lah malam itu yang ditutup dengan ucapan selamat tinggal yang belum terucapkan. Ragamu memang sudah pulang, tapi bayangmu terlanjur tak mau pulang dan menjajah isi kepalaku. Ah sepertinya aku hanya kagum dengan matamu. Atau lebih tepatnya “all about you”. Sialnya aku pulang membawa bayangan, bukan nomor telponmu waktu itu. Semoga ada malam malam selanjutnya, bukan kan berharap masih gratis, jadi tak apa rasanya jika aku hambur hamburkan semua harapanku untukmu.

 


Sabtu, 18 September 2021

Pukul Tiga

 

Pukul tiga dini hari, aku terbangun entah karena apa, tidak ada rasa kantuk, padahal baru memejamkan mata dua jam lalu. Beranjak dari kasur untuk segera mengambil segelas air putih. Minuman favoritku saat bangun tidur langsung menggilas keringnya tenggorokan. 

Mengingat masih terlalu pagi untuk melakukan aktifitas, sebenarnya waktu yang sangat tepat untukku kembali beranjak melanjutkan mimpiku yang sempat terganggu. Sambil kembali memperbaiki posisi rebahan aku membuka ponsel, berharap ada kabar yang mengembirakan, ya walaupun terlalu aneh, mana ada seseorang memberikan kabar baik pukul tiga pagi, tapi mungkin saja kan, misalnya seorang remaja yang memberikan kabar kepada temannya bahwa tim sepak bola yang mereka jagokan menang malam ini dalam situs taruhan online hehehe. Benar saja, tak ada kabar baik apapun, termasuk kabar darinya. Ya jujur aku berharap dia akan membalas pesanku. Walaupun aku sadar sepertinya aku terlalu cepat, untuk jatuh cinta sendirian.

“ah udahlah, kayaknya pertemuan kemarin tidak berkesan baik baginya” gerutuku sendiri sambil kembali tidur.

 Aku terbangun pukul 6 pagi, ini hari minggu, aku tidak membuat kopi sambil menikmati lintingan tembakau yang kubakar, bukan karena aku tidak merokok dan tidak ngopi, cuma sedang malas saja melakukan hal itu. entah apa yang ada dipikiraku saat ini, mempersiapkan fisik dan mencoba membangun mood untuk kembali bekerja sore nanti. Iya memang ini hari minggu, tapi restoran tidak tutup dihari minggu bukan?.

"when you get a head, a head full of dreams..."  lagu coldplay memenuhi kamarku, aku tidak begitu paham, tapi aku menikmatinya. :)